senang rasanya bisa memulai hari dengan sarapan roti berisi meises, keju, dan susu kental manis.
senang rasanya bisa menonton seharian.
senang rasanya bisa mengabaikan hp karena hp tak lagi penting ketika laptopmu tersambung dengan konesksi internet yang cepat
senang rasanya bisa mengomel seharian dan tidak perlu memberikan senyum palsu
senang rasanya bisa menyiksa adik-adikku dan melihatnya dengan tatapan sinis
senang rasanya bisa berlari-larian dengan mereka
senang rasanya bisa mengganggu dua bocah itu ketika sedang berbelanja di supermarket, dan seketika aku lupa kalau usiaku sudah hampir 19 tahun.
tunggu, 19 tahun?
kenapa waktu begitu cepat berlalu? rasanya baru kemarin aku heboh di depan kaca dan berjuang mati-matian agar kulitku tidak kusam sebelum ulang tahunku yang ke-17. rasanya baru kemarin aku begitu bersemangat menceritakan rencanaku untuk menyambut umur 17 tahun. rasanya baru kemarin aku mengenakan seragam putih abu-abu dan berangkat ke sekolah dengan dandanan seperti orang baru bangun tidur. rasanya baru kemarin aku menunggu di depan gerbang SMAN 3 karena telat. rasanya baru kemarin aku mengulang berkali-kali bab biologi yang sama, karena nilaiku tak kunjung mencukupi.
hum, some great memories.
dan kemarin entah kenapa aku merindukan buku biologiku. mendadak aku lebih memilih buku biologi dengan bahasa yang sudah mulai asing di kepalaku, daripada buku dasar ilmu politik yang sekarang menjadi prioritasku. aneh rasanya saat aku merasakan senang yang berlebihan saat membaca kembali buku biologi tersebut. rasa penasaranku memuncak hingga aku menghabiskan malam dengan membaca buku-buku yang dulu membuatku alergi. ya, alergi karena setiap kali aku berusaha untuk memahami pelajaran 'terkutuk' itu, kepalaku langsung terasa pusing dan mataku berkunang-kunang. hingga akhirnya aku terbangun dan sadar kalau aku malah ketiduran, bukannya belajar. aku menyadari saat membaca kemarin bahwa masih banyak halaman yang belum aku baca. banyak halaman yang benar-benar asing karena dulu aku tidak pernah menyentuhnya. sekarang aku merasa menyesal. karena andai saja aku dulu mau menerima bilogi, dan berusaha untuk tidak membencinya, mungkin masa SMA ku tidak akan dipenuhi oleh remedial.
apakah itu yang terjadi pada pelajaran hukum? semakin aku mengeluh akan pelajaran itu, maka pelajaran itu akan semakin menyulitkanku. pelajaran akan diserap secara optimal ketika kita membuka diri kita untuk mempelajari hal tersebut, dengan rasa ingin tahu dan semangat belajar, bukan karena tuntutat nilai. disaat aku sudah mulai menyangkutpautkan nilai dengan materi yang akan kupelajari, pelajaran itu seakan memberikan hal yang paling aku takuti : nilai jelek.
sudahlah, aku tidak punya kendali atas nilai. juga atas mindset mengenai mengejar nilai daripada ilmu. mau berharap bagaimanapun, nilai yang tinggi masih menjadi prioritas bagi sebagian masyarakat kita, tidak peduli bagaimana prosesnya. dan ekspektasi yang berlebihan dari orang tua juga menuntut kita untuk mendapatkan nilai tinggi agar si anak dianggap lebih pintar dan mempunyai daya saing tinggi. bye.
No comments:
Post a Comment